Kali Songo


Kampungku adalah kampung paling ujung di desa Karanggandu, kecamatan Watulimo kabupaten Trenggalek Jatim. Namanya dukuh Dayu. Sejengkal setelah kampungku adalah tanah milik perum perhutani yang sebagian besar  di tanami  kelapa dan pohon-pohon produktif lainnya oleh masyarakat setempat. Jika aku berada di halaman rumah dan menghadap pada empat penjuru mata angin, seluruhnya adalah perbukitan. Kampung kami dikepung perbukitan.

Tepat satu rumah dibelakang rumah orang tuaku adalah rumah bibiku. Siami, nama bibiku. Dibelakang rumah bibiku itulah mengalir sungai. Kampung kami tidak berada di hulu atau di hilir sungai, namun berada antara hulu dan hilir sungai. Orang-orang di kampung kami menyebut hulu sungai dengan nama Kali Songo.

 Kawasan Hulu Kali Songo
Sebutan sungai dengan nama Kali Songo mirip-mirip dengan nama Wali Songo, sebuah majelis penyebar Islam di tanah Jawa pada abad 14 M. Adakah relasi nama sungai di kampungku ini dengan dewan dakwah (Wali Songo) itu?. Untuk mengetahui keterkaitan antara Kali Songo dan Wali Songo tidak ada referensi tertulis yang pernah aku temukan. Namun dari cerita orang-orang tua dikampungku aku dapat sedikit mengetahui relasinya meskipun hal itu sebatas cerita dari mulut ke mulut orang di kampungku.

Pak Sunar adalah salah satu dari beberapa orang tua di kampungku yang pernah aku ajak bercakap-cakap tentang kisah atau legenda Kali Songo. Dengan penuh semangat, pada suatu malam Dua tahun yang lalu dia menceritakan bahwa memang ada relasinya antara nama sungai Kali Songo dengan Wali Songo. Sebelum memulai ceritanya pak Sunar dengan rendah hati berkata; "apa-apa yang aku ketahui tentang Kali Songo adalah cerita yang aku dengar dari almarhum bapakku dan kakekku", demikian tutur pak Sunar.
Selanjutnya pak Sunar memulai bercerita, "dahulu, entah kapan tepatnya saya tidak tahu, almarhum bapak dan kakekku bercerita, katanya ada rombongan orang yang di utus (diperintah) oleh Wali Songo untuk mengunjungi kampung Dayu. Utusan tersebut harus tiba di kampung Dayu pada malam hari agar tidak mengganggu warga setempat. Rombongan pejalan kaki itu bergerak dari arah barat menuju kampung Dayu. Karena medan yang di lalui adalah hutan rimba, maka perjalanan utusan para Wali Songo tersebut bergerak lambat.

Perjalanan jauh siang malam tanpa kuda tersebut membuat lelah para utusan. Pada suatu malam rombongan memutuskan untuk istirahat di dekat sungai. Dan ternyata para rombongan menemukan sebuah sungai yang jernih dan bebatuan besar di badan sungai tersebut sangat nyaman untuk bersila sambil bertafakur. Di kanan dan kiri sungai penuh pepohonan dan rimbunan semak belukar yang membuat aroma sungai begitu segar.

Segera setelah menemukan sungai rombongan utusan para Wali Songo tersebut mandi dan menunaikan ibadah sholat malam di atas bebatuan yang besar di sungai tersebut. Rerimbunan belukar membuat rombongan sulit memperkirakan, apakah saat ini tengah malam atau hampir fajar. Tidak lama berselang setelah para rombongan menjalankan ibadah sholat, tiba-tiba terdengar ayam alas (ayam hutan) berokok.

Dengan ada suara ayam yang berkokok tersebut, para rombongan memperkirakan sudah berada dekat dengan perkampungan atau dukuh Dayu. Jadi mereka sedikit menambah waktu istirahatnya di tempat tersebut. Namun yang terjadi kemudian adalah tiba-tiba fajar sudah menyingsing dan waktu subuh sudah hampir tiba. Padahal perjalan dari sungai tempat istirahat rombongan menuju kampung Dayu masih melewati hutan dan memakan waktu lama. Jika perjalanan diteruskan selepas sholat subuh, maka setibanya di dukuh Dayu pasti matahari sudah tinggi, sama artinya misi tersebut gagal. Melihat kondisi yang demikian itu, maka rombongan memutuskan mengurungkan perjalanan mereka menuju dukuh Dayu. Maka dinamailah sungai atau kali tempat istirahatnya rombongan utusan para wali itu dengan nama Kali Songo". Demikian sekelumit cerita pak Sunar.

Pak Sunar melanjutkan, "karena dukuh Dayu ini belum pernah di jamah utusan para Wali Songo, maka masyarakat di sini kebanyakan boros. Meskipun penghasilan perkebunan mereka melimpah, namun masyarakat dukuh Dayu masih banyak yang mengeluh dan kurang mensyukuri rizki dari Yang Maha Kuasa melalui.

Berkah Kali Songo
Kali Songo lumayan besar, hulunya berada di perbukitan Kali Songo, tengahnya adalah area perkebunan, perkampungan dan sawah penduduk. Sedangkan hilir kali songo adalah muara pantai Cengkrong (kawasan hutan mangrove). 

Area sawah penduduk yang luasnya kurang lebih 100 hektar, irigasinya sangat tergantung akan kondisi air di Kali Songo. Demikian juga perkebunan, sumur penduduk dan masih banyak lain kegiatan sehari-hari masyarakat di dukuh dayu dan Complongan sangat tergantung dengan kondisi air di Kali songo.

Saat ini, beberapa bulan yang lalu Pemda kabupaten Trenggalek juga telah membangun PDAM dengan mengambil air dari hulu kali Songo. Masyarakat semula menolak, dengan alasan jika PDAM di bangun di hulu Kali Songo maka kondisi air sumur akan memburuk jika musim kemarau tiba. Demikian juga area persawahan juga akan kekurangan air jika musim kemarau tiba. Namun alasan logis tersebut tidak dipedulikan oleh Pemkab Trenggalek.

Kali Songo Kini
Eksistensi sungai begitu penting, namun hanya sedikit orang yang mau mempedulikan keberadaannya. Kawaasan hulu kurang memperoleh perhatian dengan ditebanginya pohon-pohon yang menjadi penyangga mata air. Badan sungai juga menjadi alternatif tempat sampah bagi rumah-rumah yang berada di dekat sungai.

Melihat realitas tersebut, kami bersama para sesepuh di kampung dan beberapa pemuda pernah melakukan berbagai kegiatan untuk melestarikan lingkungan khususnya area yang menjadi pusat mata air Kali Songo. Kegiatan yang kurang mendapat respon dari masyarakat setempat maupun dari pemerintahan desa karanggandu, kecamatan Watulimo dan pemkab Trenggalek tersebut saat ini berjalan kurang maksimal.

Namun demikian, meskipun respon masyarakat setempat dan pemerintah setempat kurang bagus, saya yakin, pada suatu hari nanti mereka akan meyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan (sumber mata air) bagi kehidupan mereka dan anak cucunya di masa mendatang.

Tidak ada komentar: