Wejangan Kyai Toyifur Tentang Air Dan Sungai; "Mulailah Dari Diri Sendiri"

Pagi ini Jumat 30 Desember 2011 pukul 09.30 WIB saya datang ke rumah tokoh masyarakat (pemuka agama dan pemimpin tharekat tertentu) di desa saya. Sayang, beliau tidak mau di foto. Saya juga tidak tahu nama lengkapnya. Yang saya tahu nama panggilan beliau adalah Kyai Toyifur. Orangnya masih muda dan berwawasan luas.
Misi saya datang ke tempat beliau adalah ngangsu kaweruh (mencari pengetahuan) soal lingkungan hidup khusunya air dan sungai. Meski yang kami bicarakan tidak ada kaitannya dengan ilmu keagamaan yang selama ini beliau ketahui dan beliau dakwahkan, namun pembicaraan tentang air dan sungai sungguh menarik. Beliau sangat antusias.

Masjid Kyai Toyifur

Rumah Kyai Toyifur


Sebelum pembicaraan soal air dan sungai saya mulakan, sebagai basa basi kami bicara kabar kami masing-masing. Karena sesungguhnya dengan beliau saya sudah pernah kenal. Namun lama sekali kami tidak pernah ketemu karena saya sering wira wiri. Dan wira-wiri saya terakhir ini ketiban (ke-jatuh-an) pengetahuan atau ilmu soal air dan sungai walau hanya sekilas. Namun pengetahuan yang sedikit ini mendorong saya untuk lebih giat lagi menimba ilmu tentang sungai dari banyak orang. Dan salah satunya adalah Kyai Toyifur yang saat ini saya bertamu ke rumahnya.
Karena saya sebagai tamu saya memohon maaf dulu jika kedatangan saya mengganggu aktivitas beliaunya. Dengan penuh santun dia menyampaikan bahwa kedatanganku tidaklah mengganggu beliau. Selanjutnya saya menyampaikan uneg-uneg (gumam) yang ada dipikiran saya yakni tentang air dan sungai serta rencana saya membuat paguyuban.
Paparan saya soal sungai yang kotor, masyarakat pinggir sungai yang membuang sampah di sungai, area persawahan yang mulai banyak bertebaran sampah-sampah plastik, tidak adanya kepedulian masyarakat terkait kebersihan sungai dan lain sebagainya membuat beliau tersenyum menyimpan seribu kebijaksanaan. Selanjutnya beliau berkata dan perkataan beliau dapat saya simpulkan secara sederhana sebagai berikut:
"Apa yang kamu sampaikan tadi benar. Demikianlah realitas masyarakat kita. Walaupun mereka mengetahui bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, namun kesadaran mereka untuk berperilaku bersih belum ada. Mereka belum menyadari bahwa apa yang dilakukan itu akan menyebabkan menjangkitnya macam-macam penyakit. Mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan itu sudah cukup mewakili gaya hidup bersih. Dan ketahuilah, bahwa mereka itu belum mengetahui ilmu tentang air dan sungai serta ilmu menjaga air dan sungai agar tetap bersih dan lestari. Maka siapapun yang memiliki pengetahuan tentang air dan sungai wajib hukumnya menyampaikan kepada masyarakat secara luas".
Mendengar apa yang beliau sampaikan membuat saya terdiam. Saya merenung sebentar dan berkaca di cermin hatiku, betapa aku ini sesungguhnya belum memiliki ilmu tentang air dan sungai secara memadai. Jika sewaktu-waktu mereka menanyakan tentang air dan sungai, bisa memalukan diriku sendiri kalau aku tidak cukup mampu menjawab pertanyaanya. Demikian gumam ku dalam benak. Kyai Toyiful melanjutkan;

"Kalau kamu punya niat untuk menyebarluaskan arti penting air dan sungai (menjaga kebersihan sungai secara bersama-sama) di desa ini, mulailah dari diri sendiri dulu. Terutama untuk dirimu, milikilah niat yang benar. Mulailah dari dirimu sendiri, lalu dalam keluargamu, selanjutnya sampaikan ke tetanggamu. Sampaikanlah dengan penuh santun. Datangilah orang-orang yang rumahnya dekat sungai dan membuang sampah ke sungai itu. Ajaklah mereka ngobrol tentang air dan sungai sebagaimana yang kamu maksud. Jangan menggurui. Intinya silaturrahmilah kepada mereka yang sering membuat sampah di sungai. Jika kamu sudah melakukan itu dan berhasil, tentu orang lain atau tempat lainakan mencari dan mencontoh kamu. Lihatlah api, nyala api yang panas itu akan merembet ke mana-mana. Apa-apa yang kamu lakukan terkait air dan sungai, jika kamu mau konsisten melakukan, maka dia akan merembet (menjalar) ke tempat lain. Itu pasti".

Obrolanku dengan kyai toyifur tak terasa sudah lebih Satu jam. Sebelum pamit aku menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga atas wejangannya kepadaku hari ini. Selanjutnya akau bertanya, "Apakah kiranya Kyai akan mendukung saya seandainya saya membuat Paguyuban Tresno Kali Songo di Dukuh Dayu"? dengan penuh semangat beliau menjawab, "Sepenuhnya saya mendukung, namun ingat, tatalah dulu niatmu dan mulailah dari dirimu sendiri dulu terhadap hal-hal yang kamu anggap baik".


2 komentar:

si beunteur mengatakan...

Punya ilmu itu terkadang tidak bisa kita rasakan. Yg bisa kita rasakan paling2 kita merasa tahu 1 atau 2 hal yg paling sederhana saja. Kalo menyimak kata2nya Kyai Thoyibur, kayaknya mending sampaikan aja 1 atau 2 pengetahuan sederhana yg kita punya itu. Gak usah disimpan. Lagipula ada juga ungkapan yg kira2 artinya begini: "sampaikanlah walaupun itu hanya satu ayat saja"

kalisongo mengatakan...

Wah..... benar sekali Mas..... Dan kyai Toyifur adalah ulama' di kampungku yang bisa diajak untuk berjuang di dalam melestarikan lingkungan hidup khususnya air dan sungai.