Hutan Muda Bikin Volume Air Kali Songo Berkurang

Kurang lebih 10 tahun terakhir, setelah reformasi bergulir, masyarakat di dukuh Dayu desa Karanggandu khususnya dan masyarakat Watulimo Trenggalek umumnya mulai berani "menjarah" hutan dan "menyulap" hutan menjadi hutan muda (hutan produktif). Tanaman seperti durian, cengkeh, kopi, pete, jengkol dan lain-lain menghiasi perbukitan yang menjadi sumber mata air Kali Songo. Dari punggung bukit nampak pemandangan serupa di bawah ini;

 Atas (punggung bukit dari jarak jauh) Bawah (punggung bukit dari jarak dekat)


Masyarakat sebelumnya tidak berani membabat hutan karena memang ada larangan dari negara. Namun karena melemahnya instansi pemerintah pada waktu itu (awal reformasi) membuat masyarakat berani melakukannya. Di sisi lain karena desakan kebutuhan ekonomi, akhirnya masyarakat pinggiran hutan melakukan penebangan hutan untuk membuat perkebunan. Dengan adanya hutan muda, ekonomi masyarakat disekitar hutan ternyata memang ada peruhan. Di antara hasil panennya adalah buah durian serupa di bawah ini;
Buah Durian hasil perkebunan disekitar Kali Songo

Ada dilema disebalik keuntungan hutan muda di sekitar Kali Songo. Saat kemarau datang, volume air di sungai menurun sehingga aliran air dari Kali songo tidak cukup memenuhi kebutuhan air di sawah milik masyarakat sendiri. Kenyataan ini hanya membuat gelisah masyarakat. Namun masyarakat sendiri atau pemerintah desa belum pernah melakukan diskusi atau rembug yang membicarakan penyebab menurunnya volume air sungai yang memasok area persawahan mereka. Mereka hanya tahu kemarau adalah penyebab utama. Padahal menurut cerita almarhum kakek saya dulu, walaupun kemarau panjang volume air di Kali Songo tidak mengalami penurunan secara drastis. Sehingga area persawahan masih masih bisa digarap. Keadaan hulu Kali Songo yang dekat are persawahan serupa di bawah ini;

Badan Hilir Kali Songo


Badan Hilir Kali Songo

Sedangkan area persawahan yang menunggu aliran air dari Kali Songo saat ini ada beberapa hektar. Seperti yang disampaikan bapak saya ketika akan membajak sawah ada sedikit air. Namun besoknya ketika alat bajak sudah sampai di tengah sawah ternyata airnya kering. Dari punggung bukit nampak area persawahan yang sebagian besar kekurangan air di bawah ini;

Area sawah yang kekurangan air

4 komentar:

si beunteur mengatakan...

Saya koq merasa gak yakin bahwa kebun2 masyarakat itu jadi penyebab kurangnya debit air Kali Songo. Soalnya saya pernah liat contoh di daerah Wonosalam (Jombang), kebun masyarakat yg beraneka jenis justru malah memunculkan mata air yg dulu pernah hilang.

kalisongo mengatakan...

Memang perlu penelitian untuk membuktikan semua itu mbak..... Mungkin keadaan air akan berubah lebih baik di masa-masa mendatang.

si beunteur mengatakan...

waduuh ... ini dipanggil Mbak lagi deh ..

kalisongo mengatakan...

wah... berarti sangka saya salah selama ini. Ok. Terimakasih Mas...