Encih Kali Songo

Selain ikan, kepiting, udang dan penghuni sungi lainnya, ada satu lagi yang hidup di DAS Kali Songo. Orang-orang di kampung kami memberi nama encih. Serupa keong. Ya... mungkin orang menjuluki hewan ini keong. Saat-saat tertentu, tiba-tiba Kali Songo banyak sekali encih-nya. Masyarakat setempat biasa mencari dan memasak encih. Karena rasanya enak sekali jika di rebus lalu di goreng. Serupa ini encih-nya;

Huda, Menunjukkan Encih-nya

Di-bening air Kali Songo Encih-Encih Itu Beranak Pinak

Wejangan Kyai Toyifur Tentang Air Dan Sungai; "Mulailah Dari Diri Sendiri"

Pagi ini Jumat 30 Desember 2011 pukul 09.30 WIB saya datang ke rumah tokoh masyarakat (pemuka agama dan pemimpin tharekat tertentu) di desa saya. Sayang, beliau tidak mau di foto. Saya juga tidak tahu nama lengkapnya. Yang saya tahu nama panggilan beliau adalah Kyai Toyifur. Orangnya masih muda dan berwawasan luas.
Misi saya datang ke tempat beliau adalah ngangsu kaweruh (mencari pengetahuan) soal lingkungan hidup khusunya air dan sungai. Meski yang kami bicarakan tidak ada kaitannya dengan ilmu keagamaan yang selama ini beliau ketahui dan beliau dakwahkan, namun pembicaraan tentang air dan sungai sungguh menarik. Beliau sangat antusias.

Masjid Kyai Toyifur

Rumah Kyai Toyifur


Hutan Muda Bikin Volume Air Kali Songo Berkurang

Kurang lebih 10 tahun terakhir, setelah reformasi bergulir, masyarakat di dukuh Dayu desa Karanggandu khususnya dan masyarakat Watulimo Trenggalek umumnya mulai berani "menjarah" hutan dan "menyulap" hutan menjadi hutan muda (hutan produktif). Tanaman seperti durian, cengkeh, kopi, pete, jengkol dan lain-lain menghiasi perbukitan yang menjadi sumber mata air Kali Songo. Dari punggung bukit nampak pemandangan serupa di bawah ini;

 Atas (punggung bukit dari jarak jauh) Bawah (punggung bukit dari jarak dekat)

Percabangan sungai Kali Songo

Kali Songo di kampung kami ini sesungguhnya memiliki banyak percabangan. Jika ditelusuri dari aliran yang melintas di kampung kami, tidak jauh kemudian akan dijumpai percabangan. Percabangan ini mengarah pada mata air yang terselinap di balik perbukitan (gunung Genthong). Sebelum sungai masuk ke perkampungan, masyarakat sudah membuat dam pembagi arah aliran air. Ada yang mengalir ke kiri dan ada yang mengalir ke kanan.
  Dam pembagi aliran sungai untuk area persawahan mayarakat dukuh Dayu dan Complongan

Merencanakan Membuat Paguyuban Tresno Kali Songo I

Tidak semua orang yang dekat dan memanfaatkan air dan sungai saban hari menyadari betapa pentingnya air atau sungai tersebut. Menyadari saja tidak,  apalagi merawat atau menjaganya. Hem... setelah mengikuti training hidrologi di jogjakarta (kampus UGM), 16-21 desember 2011 barulah saya menyadari betapa pentingnya melakukan penjagaan terhadap air dan sungai atau kali di kampungku sendiri.
Sepulang dari Jogyakarta aku coba mensosialisasikan arti penting air dan sungai serta rencana pembentukan paguyuban. Mula-mula aku obrolkan dengan teman-teman dekatku di warung kopi. Saat malam mulai turun di emperan rumah, terhadap teman-temanku yang main ke rumah, rencanaku membentuk paguyuban juga aku sampaikan. Tak satu pun dari mereka mendukung rencanaku membuat paguyuban yang memiliki visi menjaga dan merawat sungai agar tetap bersih. 
Mereka bahkan mencemooh, mentertawakan bahkan mengejek, "kayak ndak ada kerjaan saja", demikian sebagian besar kata mereka setelah aku menguraikan gagasanku tentang pembentukan paguyuban pencinta sungai. Hampir pustus asa rasanya aku. Namun Tuhan mengirim-kan motivator buatku, dia adalah mbak Rita Mustikasari (Itok -demikian orang-orang dekatnya menyapa). 

MBAK ITOK

Mancing Util di Kali Songo

Kali Songo airnya sangat jernih. Siang itu 24 Desember 2011 kami memancing ikan. Panas matahari tidak membuat kami mengurungkan niat. Kami tahu di sepanjang aliran tengah Kali Songo akan terasa sejuk. Karena di pinggiran sungai masih banyak pepohonan.
Bersama seorang teman, namanya Sunaryo saya menyiapkan peralatan sederhana untuk memancing ikan. Sangat sederhana, umpan yang kami pakai adalah cacing tanah. Joran atau stik, atau dalam istilah kami adalah gayahan hanya dari lidi basah daun kelapa. Seperti ini nie...

Sunaryo sedang menyiapkan joran (stik) (gayahan) dari lidi basah daun kelapa

Gemericik Air Kali Songo

Percikan air yang membentur bebatuan bagai melodi. Bukan gitar, piano atau saksofan. Tapi ini adalah nyanyian alam yang ada kerana dia-da-kan oleh Sang Pencipta untuk manusia. Menjaga bebatuan, menjaga pepohonan, Menjaga nafsu serakah adalah amanat kemanusiaan.

DAS (Daerah Aliran Sungai) Kali Songo

DAS (Daerah Aliran Sungai) Kali Songo terletak di Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. DAS Kali Songo panjangnya kurang lebih 10 km dari mata air gunung Genthong dan sekitarnya sampai di muara Pantai 'pancer' cengkrong. Dusun yang di lewati Kali Songo adalah Dusun Dayu dengan penghuni kurang lebih 400 KK (Kepala Keluarga). 

Aliran Tengan Kali Songo